Analisis Faktor-Faktor Penentu Jalur Evakuasi Bencana Gerakan Tanah di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat
DOI:
https://doi.org/10.33332/jgsm.geologi.v27i1.12891Kata Kunci:
mitigasi bencana, jalur evakuasi, keamanan, titik kumpul , bandung baratAbstrak
Bandung Barat merupakan wilayah di Indonesia yang rawan terhadap gerakan tanah, banjir, dan bencana hidrometeorologi lainnya. Pemerintah daerah telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak bencana alam dengan mengeluarkan peringatan dini dan membentuk tim tanggap bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat sistem peringatan dini berbasis partisipasi masyarakat untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam merespons bencana alam. Kajian ini bermaksud untuk mencari alternatif dalam penanggulangan bencana berupa jalur evakuasi yang mudah dijangkau dan aman bagi masyarakat. Metode dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi lokasi potensial, memetakan jalur evakuasi potensial, mengidentifikasi jalur berdasarkan keamanan dan kemudahan akses, mengevaluasi jalur hasil pemetaan berdasarkan analisis spasial dan menentukan jalur evakuasi. Hasil penelitian yang telah dilakukan dengan memperhatikan area rawan bahaya, kondisi morfologi dan akses dari permukiman masyarakat, maka terdapat 2 titik yang menjadi area titik kumpul dan ada beberapa jalur evakuasi yang akan digunakan. Area rawan bencana terdekat di sekitar permukiman warga yaitu ± 5 km berupa gerakan tanah sebanyak 2 titik area rawan bencana sebelah tenggara dan barat laut, untuk titik kumpul hasil pemetaan terdapat 2 titik kumpul dengan luasan total area titik kumpul yaitu 500 m2. Jarak dari area permukiman ke lokasi titik kumpul paling jauh ditempuh dengan waktu 10 menit (740 m) dan paling cepat ditempuh dengan waktu 4 menit (290 m). Faktor utama dalam penentuan jalur evakuasi kebencanaan geologi di Cipongkor, yaitu ketersebaran permukiman masyarakat, jarak lokasi rawan bencana terhadap permukiman, kondisi morfologi daerah bencana dan kondisi batuan wilayah rawan bencana. Kondisi morfologi area rawan bencana bergelombang sedang (45% di sebelah barat laut dan bergelombang terjal (55%) di sebelah tenggara, sedangkan masyarakat menyebar cukup luas dengan persentase 38% di sebelah timur laut dan 62% di sebelah barat daya.
Unduhan
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.




View MyStat