KONTROL MORFOLOGI TERHADAP KADAR NIKEL PADA KOMPLEKS MELANGE LOK ULO, DAERAH SELOGIRI, KABUPATEN KEBUMEN, JAWA TENGAH

GRADIENT MATTERS: MORPHOLOGICAL CONTROL ON NICKEL LATERITE QUALITY IN THE LUK ULO MÉLANGE COMPLEX, SELOGIRI, KEBUMEN REGENCY, CENTRAL JAWA

Penulis

  • Geri Agroli Institut Teknologi Bandung Penulis
  • Raynald Ariyaputera Institut Teknologi Bandung Penulis
  • Nurcahyo Indro Basuki Institut Teknologi Bandung Penulis
  • Alfend Rudyawan Institut Teknologi Bandung Penulis

DOI:

https://doi.org/10.47599/bsdg.v21i2.609

Kata Kunci:

Nikel laterit, Selogiri, kemiringan lereng, Kompleks Mélange Luk Ulo

Abstrak

Nikel laterit merupakan sumber daya mineral strategis yang pembentukannya dikontrol oleh berbagai faktor, salah satunya morfologi. Penelitian ini ditujukan untuk mengkarakterisasi profil endapan nikel laterit dan mengkaji pengaruh kemiringan lereng terhadap kadar nikel pada batuan ultramafik Kompleks Mélange Luk Ulo di Desa Selogiri, Kecamatan Karangyam, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Metode yang digunakan meliputi pemetaan geologi permukaan pada area seluas 3,4 km², pengeboran manual menggunakan hand auger hingga kedalaman 4,05 m, analisis petrografi enam sayatan tipis, dan analisis geokimia delapan sampel menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah Selogiri tersusun atas lima satuan batuan yang berkorelasi dengan Kompleks Mélange Luk Ulo berumur Kapur Akhir. Profil laterit terdiri atas zona tanah penutup (0,90 m), limonit (1,80 m), dan saprolit (1,35 m) dengan pola pengayaan nikel bertipe silikat. Kadar Ni tertinggi ditemukan pada zona saprolit sebesar 0,061%, jauh di bawah ambang batas ekonomis. Intensitas laterisasi tergolong lemah, yang dikendalikan oleh kemiringan lereng yang curam (16°–35°) dan singkatnya durasi keterpaparan batuan induk sejak Plio-Pleistosen. Perbandingan dengan daerah nikel laterit lain di Indonesia menunjukkan korelasi negatif antara kemiringan lereng dan kadar nikel, di mana lereng landai (Kelas III–IV, 4°–16°) menghasilkan kadar Ni lebih tinggi (1,5%–2,5%) dibandingkan lereng curam. Selain kontrol morfologi, faktor tektonik dan durasi laterisasi turut mengontrol kualitas endapan secara signifikan.

Biografi Penulis

  • Geri Agroli, Institut Teknologi Bandung

    Geological Engineering Program

  • Nurcahyo Indro Basuki, Institut Teknologi Bandung

    Geological Engineering Program

  • Alfend Rudyawan, Institut Teknologi Bandung

    Geological Engineering Program

Referensi

Ahmad, W., 2008. Nickel laterites: fundamental of chemistry, mineralogy, weathering processes, formation, and exploration. Vale Inco–VITSL.

Ariyaputera, R., Basuki, N.I. and Rudyawan, A., 2025. Studi geologi dan karakteristik nikel laterit di daerah Selogiri, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Tugas Akhir Sarjana. Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Asikin, S., Harsolumakso, A.H., Busono, H. and Gafoer, S., 1992. Geologi Lembar Kebumen, Jawa. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

Butt, C.R. and Cluzel, D., 2013. Nickel laterite ore deposits: weathered serpentinites. Elements, 9(2), pp.123–128.

Cathelineau, M. et al., 2024. Peridotite weathering and Ni redistribution in New Caledonian laterite profiles: influence of climate, hydrology, and structure. Minerals, 14(11), p.1082.

Choi, Y., Lee, I. and Moon, I., 2021. Geochemical and mineralogical characteristics of garnierite from the Morowali Ni-laterite deposit in Sulawesi, Indonesia. Frontiers in Earth Science, 9, p.761748.

Dalvi, A.D., Bacon, W.G. and Osborne, R.C., 2004. The past and the future of nickel laterites. In: PDAC 2004 International Convention. Toronto: Prospectors and Developers Association of Canada, pp.1–27.

Farrokhpay, S. et al., 2019. Characterization of Weda Bay nickel laterite ore from Indonesia. Journal of Geochemical Exploration, 196, pp.270–281.

Hall, R., 2012. Late Jurassic–Cenozoic reconstructions of the Indonesian region and the Indian Ocean. Tectonophysics, 570, pp.1–41.

Hall, R.A. and Wilson, M.E.J., 2000. Neogene sutures in eastern Indonesia. Journal of Asian Earth Sciences, 18(6), pp.781–808.

Haluk, H., 2025. Geochemical characteristics of laterite nickel deposits in Block A PT. Kawei Sejahtera Mining, Raja Ampat. INTAN Jurnal Penelitian Tambang, 8(1).

Harsolumakso, A.H. and Noeradi, D., 1996. Deformasi pada Formasi Karangsambung, daerah Luk Ulo, Kebumen, Jawa Tengah. Buletin Geologi, 26(1), pp.45–54.

Harsolumakso, A.H. et al., 2015. Luk Ulo Mélange Complex, Central Java: characteristics, origin and tectonic significance. In: 13th AOGS Annual Meeting, Beijing.

Hasria, H. et al., 2021. Pengaruh geomorfologi terhadap pola distribusi unsur nikel dan besi pada endapan nikel laterit di Kabupaten Buton Tengah. Jurnal Geosapta, 7(2), pp.103–114.

Hasria, H. et al., 2024. Pengaruh kemiringan lereng terhadap ketebalan endapan nikel laterit daerah Tobimeita, Konawe Utara. Jurnal Geosains dan Teknologi, 6(3), pp.174–185.

Ilham, M. et al., 2021. Pengaruh batuan dasar dan kelerengan terhadap kadar dan ketebalan nikel laterit di Morowali Utara. Jurnal Teknik Geologi, 5(1), pp.23–33.

Ilyas, A., Amin, M. and Djafar, M.T., 2016. Geokimia endapan nikel laterit di Pomalaa, Kolaka. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, 20(2), pp.85–96.

Isjudarto, A., 2013. Pengaruh morfologi lokal terhadap pembentukan nikel laterit. In: Prosiding ReTII ke-8. Yogyakarta: ITN, pp.10–14.

Kadarusman, A. et al., 2004. Petrology and geochemistry of East Sulawesi ophiolite. Journal of Asian Earth Sciences, 22(5), pp.461–476.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2024. Buka Indonesia Mining Summit, Menteri Bahlil tegaskan hilirisasi. Siaran Pers No. 646.Pers/04/SJI/2024.

Langkoke, R., 2023. Modeling and estimation of nickel laterite resources using geocomputing methods. IJSECS, 3(1), p.1090.

Le Maitre, R.W., 2002. A classification of igneous rocks. Cambridge: Cambridge University Press.

Monnier, C. et al., 1995. Back-arc basin origin for the East Sulawesi ophiolite. Geology, 23(9), pp.851–854.

Mudd, G.M., 2010. Global trends and environmental issues in nickel mining. Ore Geology Reviews, 38(1–2), pp.9–26.

Mudd, G.M. and Jowitt, S.M., 2014. Global nickel resource trends. Economic Geology, 109(7), pp.1813–1841.

Pandu, Hasria, H. and Arisona, A., 2025. Hubungan kemiringan lereng dengan kadar dan ketebalan Ni. Jurnal Riset Teknologi Pertambangan, 6(1), pp.38–45.

Qi, D.R. et al., 2024. Nickel enrichment during lateritization of ophiolitic rocks in Sulawesi. Ore Geology Reviews, 170, p.106140.

Ramadhan, A.R. et al., 2020. Lateritisasi pada kompleks melange Wailukum, Halmahera Timur. Bulletin of Geology, 4(1), pp.474–495.

Salam, R. et al., 2020. Terrain correction study in Karangsambung area. Jurnal Geofisika, 17(2), pp.9–15.

Salinding, J.C. et al., 2025. Kontrol morfologi pada profil vertikal endapan nikel laterit Pulau Kabaena. OPHIOLITE, 7(1), pp.31–42.

Sribudiyani, N.M. et al., 2003. The collision of the East Java Microplate and hydrocarbon implications. (tidak berseri jurnal jelas).

Suparka, M.E., 1988. Studi petrologi kompleks ofiolit Karangsambung. Disertasi. ITB.

Surono, 2013. Geologi Terintegrasi Sulawesi. Bandung: Badan Geologi.

Syafrizal, H. et al., 2009. Hubungan kemiringan lereng dengan distribusi ketebalan laterit di Halmahera Timur. JTM, 16(3).

Van Bemmelen, R.W., 1949. The Geology of Indonesia. The Hague: Government Printing Office.

Van Zuidam, R.A., 1985. Aerial photo-interpretation in terrain analysis. The Hague: Smits Publishers.

Diterbitkan

2026-08-04

Terbitan

Bagian

Buletin Sumber Daya Geologi