MENHIR DI DAERAH DENATANA, KECAMATAN WOLOMEZE, KABUPATEN NGADA, NUSA TENGGARA TIMUR SEBAGAI OBJEK GEOWISATA UNTUK KUNJUNGAN DIKLAT GEOWISATA

Authors

  • Pudjo Asmoro Pusat Survei Geologi Author
  • Fiati Nurmaya Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Geologi, Mineral dan Batubara Author

DOI:

https://doi.org/10.58522/wdqnwx44

Keywords:

Kabupaten Ngada, Denatana, Kaldera Welas, menhir, endapan piroklastik, erosi

Abstract

Di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kabupaten Ngada, sedikitnya terdapat tiga lokasi menhir, yaitu menhir di Desa Mengeruda, Kecamatan Soa yang berada di tengah persawahan; menhir di Desa Naru yang berada di perkampungan; dan menhir di Desa Tiwuriwu, Kampung Bena, Kecamatan Jerebuu yang menyatu dengan kampung adat. Menhir di lokasi tersebut masih sering digunakan untuk acara adat. Menhir telah lama menjadi salah satu objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Selain sebagai objek wisata edukasi, menhir pun dijadikan sebagai objek penelitian atau sebagai salah satu objek keindahan alam. Menhir yang terbentuk oleh proses alam di daerah Denatana hanya terbentuk di tebing anak Sungai Nginamanu walaupun di tempat lain mempunyai kemiripan morfologi dan sifat fisik batuan yang relatif sama. Menhir tersebut terdiri atas tiang-tiang yang tersusun oleh breksi pumis dan tersebar searah dengan lembah sungai. Batuan penyusun menhir berupa endapan piroklastik bagian atas, bersifat laharik, kompak, klastik, berukuran butir hingga 5 cm, dengan komponen utama pumis. Proses erosi menghasilkan susunan batuan berbentuk susunan menhir berarah barat laut-tenggara. Tidak ditemui adanya bekas kegiatan manusia ataupun upacara adat di sekitar menhir tersebut. Penelitian ini bertujuan antara lain untuk melakukan pengumpulan informasi data, inventarisasi data objek geowisata kawasan menhir di Kabupaten Ngada dan sekitarnya, yang diharapkan dapat memberikan alternatif lokasi Praktik Kerja Lapangan bagi diklat-diklat geologi lingkungan, khususnya diklat Geologi Geowisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menhir yang dijumpai di daerah Denatana, Kecamatan Wolomeze terbentuk pada batuan breksi pumis, di tebing anak sungai Nginamanu, berkelerengan tebing selatan 30°–40° dan tebing utara antara 60°–80°, berbentuk tiang-tiang tebal dan tipis, akibat proses erosi ke arah hulu dan ke arah samping.

Downloads

Published

2018-12-31