PENGGUNAAN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS KONFIGURASI SCHLUMBERGER UNTUK IDENTIFIKASI KARST AKUIFER PADA DAERAH NUSA PENIDA, KABUPATEN KLUNGKUNG, PROV. BALI
DOI:
https://doi.org/10.58522/p462wj35Keywords:
geolistrik resistivitas, akuifer karst, airtanah, batugamping, Nusa PenidaAbstract
Ketersediaan airtanah di Pulau Nusa Penida sangat terbatas karena kondisi geologi yang didominasi oleh bentangalam karst, sehingga air umumnya tersimpan pada kedalaman besar dalam celah dan rongga batugamping. Studi ini bertujuan mengidentifikasi litologi bawah permukaan, menentukan karakter akuifer, dan menilai zona prospek pengeboran airtanah melalui metode geolistrik resistivitas konfigurasi Wenner–Schlumberger. Pengukuran dilakukan pada lima lintasan sepanjang 300 meter dengan penetrasi vertikal sekitar 150 meter. Hasil inversi resistivitas menunjukkan empat satuan batuan utama: soil/aluvium (90–365 ohm), napal (176–187 ohm), batugamping berongga (porous limestone) (246–774 ohm), dan batugamping masif (1184–2188 ohm). Zona dengan resistivitas rendah–sedang pada batugamping berongga (porous limestone) di kedalaman 50–90 meter diinterpretasikan sebagai akuifer utama, dengan ketebalan 20–40 meter. Interpolasi spasial mengindikasikan bahwa bagian selatan lokasi penelitian, khususnya sekitar lintasan GL-1A, GL-3A, dan GL-4A, merupakan zona paling prospektif untuk pengeboran. Temuan ini sejalan dengan karakter akuifer karst di Nusa Penida, di mana pelarutan batugamping menjadi pengontrol utama keberadaan airtanah. Studi ini menegaskan bahwa akuifer dalam Nusa Penida bersifat bebas, tersimpan dalam rongga pelarutan, dan memerlukan pengelolaan khusus untuk mencegah intrusi air laut serta kehilangan air (water loss) saat pengeboran.
Downloads
Published
Issue
Section
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.